Nama Anggota :
Agustinus Septian A (10213389)
Albet Peprian R (10213590)
Fikri Sea Javanesa (13213466)
Krisna Aji W (14213866)
BAB
I
Definisi
Etika dan Bisnis Sebagai Sebuah Profesi
1. Hakekat Mata Kuliah
Etika Bisnis
Menurut
Drs. O.P. Simorangkir bahwa hakikat etika bisnis adalah menganalisis atas
asumsi-asumsi bisnis, baik asumsi moral maupun pandangan dari sudut moral.
Karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
Karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu sistem ekonomi, maka sebagian dari tugas etika bisnis hakikatnya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang sistem ekonomi yang umum dan khusus, dan pada gilirannya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai sistem-sistem ekonomi, struktur bisnis.
2. Definisi Etika dan
Bisnis
Kata etika berasal dari bahasa yunani ethos (tunggal) yang berarti adat ,
kebiasaan
watak
, akhlak, sikap, perasaan dan cara berfikir. bentuk jamak inilah yang menjadi
acuan dengannya istilah etika yang dipakai dalam sejarah peradaban manusia
hingga saat ini tercipta. Etika adalah adat kebiasaan yang baik yang
dipertahankan, di junjung tinggi, dan diwariskan secara turun temurun.
Sedangkan Bisnis lebih
menurut Peterson dan Plowman yang
menjelaskan bahwa bisnis merupakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan
penjualan ataupun pembelian barang dan jasa yang secara konsisten
berulang. Maka etika bisnis dapat diartikan suatu sikap, kebiasaan dan
cara berfikir yang berhubungan dengan segala aktivitas ekonomi.
3. Etiket Moral, Hukum dan
Agama
Etiket Moral adalah nilai yang
berlaku sehingga menimbulkan baik dan buruk suatu tindakan dengan tidak
merugikan orang lain berdasarkan nurani diri. Nilai moral dipengaruhi oleh tiga
hal, yaitu ajaran agama, adat istiadat dan ideologi. Hukum adalah peraturan
yang berupa norma dan sanksi yang dibuat dengan tujuan untuk mengatur tingkah
laku manusia, menjaga ketertiban, keadilan, mencegah terjadinya kekacauan.
Etik mendukung keberadaan agama, dimana
etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk memecahkan
masalah.Perbedaan antara etika dan ajaran moral agama yakni etika mendasarkan
diri pada argumentasi rasional. Sedangkan agama menuntut seseorang untuk
mendasarkan diri pada wahyu Tuhan dan ajaran agama. Dalam agama ada etika dan
sebaliknya agama merupakan salah satu norma dalam etika. Kedua berkaitan, namun
terpisahkan secara teoritis. Dalam tataran praktis kita tidak bisa
mengesampingkan salah satu diantaranya. Kita misalnya, tidak berbuat suatu hal
yang lantas hanya didasarkan pada agama saja tanpa memperhatikan etika atau
sebaliknya.
4. Klasifikasi Etika
a. Etika
Normatif
Etika
normatif merupakan cabang etika yang penyelidikannya terkait dengan
pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana seharusnya seseorang bertindak
secara etis. Dengan kata lain, etika normatif adalah sebuah studi tindakan atau
keputusan etis. Di samping itu, etika normatif berhubungan dengan
pertimbangan-pertimbangan tentang apa saja kriteria-kriteria yang harus
dijalankan agar sautu tindakan atau kepusan itu menjadi baik (Kagan, 1997, 2).
b. Etika
Terapan
Etika
terapan merupakan sebuah penerapan teori-teori etika secara lebih spesifik
kepada topik-topik kontroversial baik pada domain privat atau publik seperti
perang, hak-hak binatang, hukuman mati dan lain-lain. Etika terapan ini bisa
dibagi menjadi etika profesi, etika bisnis dan etika lingkungan. Secara umum
ada dua fitur yang diperlukan supaya sebuah permasalahan dapat dianggap sebagai
masalah etika terapan.
c. Etika
Deskriptif
Etika
deskriptif merupakan sebuah studi tentang apa yang dianggap 'etis' oleh
individu atau masyarakat. Dengan begitu, etika deskriptif bukan sebuah etika
yang mempunyai hubungan langsung dengan filsafat tetapi merupakan sebuah bentuk
studi empiris terkait dengan perilaku-perilaku individual atau kelompok. Tidak
heran jika etika deskriptif juga dikenal sebagai sebuah etika komparatif yang
membandingkan antara apa yang dianggap etis oleh satu individu atau masyarakat
dengan individu atau masyarakat yang lain serta perbandingan antara etika di
masa lalu dengan masa sekarang.
Tujuan
dari etika deskriptif adalah untuk menggambarkan tentang apa yang dianggap oleh
seseorang atau masyarakat sebagai bernilai etis
serta apa kriteria etis yang digunakan untuk menyebut seseorang itu etis
atau tidak (Kitchener, 2000, 3).
d. Metaetika
Metaetika
berhubungan dengan sifat penilaian moral. Fokus dari metaetika adala arti atau
makna dari pernyataan-pernyataan yang ada di dalam etika. Dengan kata lain,
metaetika merupakan kajian tingkat kedua dari etika. Metaetika juga bisa
dimengerti sebagai sebuah cara untuk melihat fungsi-fungsi
pernyataan-pernyataan etika, dalam arti bagaimana kita mengerti apa yang
dirujuk dari pernyataan-pernyataan tersebut dan bagaimana pernyataan itu
didemonstrasikan sebagai sesuatu yang bermakna.
5. Konsep Etika
Konsep etika bisnis tercermin pada
corporate culture (budaya perusahaan). Menurut Kotler (1997) budaya perusahaan
merupakan karakter suatu perusahaan yang mencakup pengalaman, cerita,
kepercayaan dan norma bersama yang dianut oleh jajaran perusahaan. Hal ini
dapat dilihat dari cara karyawannya berpakaian, berbicara, melayani tamu dan
pengaturan kantor.
Referensi
:
-
Yosephus, L. Sinuor,
2013. Etika Bisnis. Buku Obor:
Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar